Fakta Baiknya Toleransi Umat Islam


sumber: fb ust. Azzam Mujahid Izzulhaq

Buruknya kondisi toleransi di negara kita ini hanya ILUSI. Khayalan tingkat dewa yg mengada-ada. Atau bisa juga disebut mimpi buruk yg kemudian menyebabkan trauma atau gegar wacana.

Entah apa agenda propaganda mereka, kaum yg mengaku paling toleran, paling Pancasila, paling ke-bhineka-an, paling Indonesia. Yg sudah terlihat nyata adalah mereka ingin memburukkan citra umat Islam. Demi meraih sebuah keinginan, melanggengkan kekuasaan.



Tema yg juga ilusi kaum gegar wacana yg seringkali diulang adalah Menolong itu Tidak Perlu Menanyakan Agama. Baru-baru ini, ilusi atau khawalan tingkat dewa ini disuarakan kembali oleh AD, founder situs Ka*kus, dalam postingannya sambil menautkan karikatur sebagai penguatan opininya.

Benarkah kenyataannya masyarakat Indonesia mengakami kondisi yg buruk dalam menjalankan toleransi antar umat beragama? Benarkah ada pilah pilih dalam pelaksanaan saling tolong menolong dengan 'mempermasalahkan' agama?

Mari perhatikan contoh fenomena sosial yg FAKTA terjadi di Kabupaten Mimika, Papua.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa ada gelombang pengungsi dari Kampung Banti dan Kimberly yg menjadi korban penyanderaan teroris bersenjata di sana yg pada 17 November 2017 lalu, TNI dan Polri berhasil melumpuhkannya. 1300 orang diungsikan ke Timika.

Yg namanya diungsikan, apalagi dalam kondisi ketegangan kontak senjata, tentunya masyarakat mengalami trauma dan berbagai keterbatasan yg memerlukan uluran tangan bersama.

Apakah umat Islam yg adalah umat MINORITAS di sana diam saja? Faktanya adalah TIDAK.

Ratusan relawan turun membantu melayani keperluan pengungsi dengan sangat baiknya. Bantuan pun digalang sedemikan rupa. Mereka pun mendatangi kamp pengungsi di Graha Eme Neme Yauware menyampaikan bantuannya. Yg punya materi, membantu dengan materi. Yg punya tenaga, membantu dengan tenaga. Semua dilakukan tanpa melihat perkara AGAMA.

Saya menjadi saksinya bagaimana Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Papua membantu saudara-saudara kita ratusan juta rupiah. Persaudaraan Muslimah Provinsi Papua membantu langsung dengan menyampaikan makanan, minuman, pakaian, yg jumlahnya luar biasa. Rumah Keluarga Indonesia PKS pun sama. Adik-adik Taman Baca An Nafi dan Himpunan Mahasiswa Islam yg rela setiap pagi dan sore mengajak anak-anak yg jumlahnya hingga 200-an orang itu bermain, belajar, bergembira menghilangkan trauma psikologis yg mereka derita. Belum lagi Majelis-majelis Ta'lim, organisasi-organisasi Islam, Sekolah-sekolah Islam dan seluruh masyarakat Muslim di Kabupaten Mimika bahu membahu membantu saudaranya yg sedang tertimpa musibah.

Fenomena inilah fakta yg terjadi di masyarakat Mimika, di Papua dan bahkan di seluruh penjuru Republik Indonesia. Kita tidak ada masalah dengan itu semua.

Tidak ada PENGKOTAK-KOTAKAN masyarakat berdasarkan keyakinan yg acapkali mereka ILUSIKAN dan KHAYALKAN. Umat Islam bangsa Indonesia itu berbaur, tidak membedakan jenis rambut, warna kulit, agama dan lainnya. Kita telah lama hidup rukun dan damai. Toleransi sudah selesai diwacanakan. Kita sibuk melakukan.

Justru, mereka yg nyaring (baca: cempreng) berteriak bahwa kehidupan sosial kita sedang bermasalah, toleransi tak lagi dijunjung tinggi, dan beragam fenomena khayalan lainnya. Jangankan bicara tentang toleransi, saat diundang kerja bakti saja mereka bersembunyi di balik pagar yg tinggi.

Umat Islam Indonesia itu mungkin jarang berbicara lantang tentang nasionalisme, Pancasila, ke-Bhineka Tunggal Ika-an, hingga toleransi dan menghormati keberagaman. Bukan karena tidak nasionalis, pancasilais, memiliki semangat keberagaman, toleran dan lainnya. Sama sekali bukan. Umat Islam Indonesia itu jarang berbicara karena sibuk melakukan.

Salam Damai dari Timur Indonesia! Saya tunggu kalian yg sedang berilusi dan mengkhayal tingkat dewa mengenai buruknya kondisi sosial keagamaan dan kemasyarakat bangsa Indonesia, di sini! Di luar pintu dan jendela rumah-rumah kalian! Di kehidupan nyata! Saya tunggu kalian di Papua...

#AMI
#SelamatkanIndonesia
#LintasanPikiran

link: https://m.facebook.com/azzam.izzulhaq/posts/10210346304798916



RENUNGAN


umat Islam diajak golput, sementara mereka yang bukan Islam justru mengajak umatnya agar ikut pemilu dan menguasai pemerintahan. jika umat Islam golput dan dilarang ikut pemilu, maka pemerintahan akan dipimpin oleh mereka yang tidak memihak Islam dan itu sudah terjadi di sejumlah daerah. bagi aye, seruan golput sama dengan mengajak umat Islam untuk memilih orang yang tidak memihak kepada Islam sebagai pemimpin

...

===================
Imam Syafi'i (Rohimakumulloh) pernah ditanya oleh salah satu muridnya tentang bagaimana caranya kita mengetahui pengikut kebenaran di akhir zaman yang penuh fitnah...???
Jawab beliau "Perhatikan kemana mengarah anak panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran"
Diberdayakan oleh Blogger.