29 NOVEMBER KITA AKAN KEHILANGAN NAMA 3 BUMN TAMBANG LEGENDARIS DAN SUDAH GO PUBLIC?


sumber: fb Nanik Sudaryati
(wartawan senior)

Tanggal 29 November lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Bisa ( RUPSLB), akan dilebur 3 Perusahaan Legendaris dan sudah go public ( listed), yaitu PT Timah Tbk ( berdiri sejak tahun 1976), PT Bukit Asam Tbk ( berdiri sejak jaman Belanda tahun 1919), dan PT Aneka Tambang Tbk ( berdiri tahun 1980-an). Tiga perusahaan yg go public tadi akan dibuat holding dibawah bendera atau lead PT Inalum. PT Inalum adalah perusahaan yg belum go public dan menjadi BUMN baru pada tahun 2013, setelah sebelumnya dimiliki investor Jepang ( PMA).



Pembentukan holding ini dalam rangka utk membeli saham Freport yg harus divestasi 51 persen secara bertahap.

Alasan dibuat holding konon agar aset -aset akan terkonsolidasi sehingga jumlahnya besar, supaya bisa digunakan utk mencari pinjaman dalam jumlah besar utk membeli saham Freeport.

Membeli saham Freeport sebetulnya tidak masalah, tapi pertanyaan mengapa harus menyertakan Inalum dan holdingnya harus PT Inalum?

Mengapa tidak tiga perusahaan yg sehat semua tadi ( PT Timah, PT Aneka Tambang dan Bukim Asam) yg disatukan kemudian dibawah Lead PT Bukit Asam yg aset dan keuntungannya paling besar?

Sekedar informasi keuntungan PT Timah tbk 600 miliar per tahun, PT Aneka Tambang Tbk keuntungannya juga 600 miliar per tahun, dan Bukit Asam keuntungannya hampir Rp 2 Triliun per tahun.

PT Inalum yg baru jadi BUMN tahun 2013 dan belum go public, tidak diketahui secara pasti jumlah aset dan keuntungan.

DPR harus memanggil Rini (Menteri BUMN) utk menanyakan:

1. Apa alasan membuat holding dari tiga perusahan yg sudah go public ( listed), dan menyatukan dengan PT Inalum ( belum go public). Mengapa harus PT Inalum yg jadi leadnya? Bukankah ini berarti mengubah tiga perusahaan listed menjadi unlisted?

2. Bukankan selama ini dalam sejarah BUMN, perusahaan -perusahan BUMN yg belum go public terus didorong utk bisa go Public agar TRASPARAN, EFISIEN dan PROFESIONAL pengelolaannya? Lalu menjadi janggal dan aneh kalau sekarang tiga perusahaan yg sudah go public malah diubah menjadi perusahaan tertutup. Apakah DPR tdk melihat kejanggalan ini?

3. DPR sudah selayaknya meminta Rini menjelaskan komposisi pemegang saham PT Inalum yg selalu disebutnya 100 persen milik pemerintah. Bukankah selain pemerintah pusat pemegang sahamnya, juga ada PT yg pemegang sahamnya Pemda Sumatra Utara? Nah di dalam kepemilikan saham Pemda Sumatra Utara bukankah ada pihak swastanya? Sekedar mengingatkan modus swasta masuk lewat pemerintah daerah ini juga terjadi di PT Newmon , saat itu pada saham perusahan Pemda NTT ternyata ada saham Bakrie? Kalau di Inalum rasanya kalau DPR mau baca -baca juga memgetahui ada saham siapa?

Ayo DPR Undang Rini yg kata mantan Menko, Rizal Ramli sdh dua tahun ini tidak mau nginjak DPR . Masak kalian anggota DPR bungkam saja melihat menteri BUMN melakukan berbagai aksi korporasi di perusahaan-perusahaan BUMN. Bagaimana kalau langkah ini salah dan kita malah kehilangan perusahan -perusahaan BUMN kita yg sehat?

link: https://m.facebook.com/100015882692239/posts/223766941496061



RENUNGAN


umat Islam diajak golput, sementara mereka yang bukan Islam justru mengajak umatnya agar ikut pemilu dan menguasai pemerintahan. jika umat Islam golput dan dilarang ikut pemilu, maka pemerintahan akan dipimpin oleh mereka yang tidak memihak Islam dan itu sudah terjadi di sejumlah daerah. bagi aye, seruan golput sama dengan mengajak umat Islam untuk memilih orang yang tidak memihak kepada Islam sebagai pemimpin

...

===================
Imam Syafi'i (Rohimakumulloh) pernah ditanya oleh salah satu muridnya tentang bagaimana caranya kita mengetahui pengikut kebenaran di akhir zaman yang penuh fitnah...???
Jawab beliau "Perhatikan kemana mengarah anak panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran"
Diberdayakan oleh Blogger.